Minggu, 09 Agustus 2009

Berkunjung ke MAN-IC, Sekolah Dengan Segudang Prestasi (1)


Didirikan Habibie, Gunakan Filosofi Ilmu Petani


SIAPA Yang tidak kenal MAN Insan Cendekia Gorontalo, sekolah Madrasah yang banyak melahirkan siswa berprestasi, sekolah ini bahkan mengangkat dunia pendidikan di negeri ini hingga kelas International. Apa saja resep hingga sekolah ini unggul dan banyak mencetak siswa berprestasi. Berikut catatan Jitro Paputungan, Wartawan Gorontalo Post, yang berkunjung ke sana

"Terima Kasih Anda Tidak Merokok di Area Kampus," Kalimat itu yang akan menyambut pengunjung kalau ingin ke MAN Insan Cendekia (MANIC), karena terpampang pas dipintu masuk kampus Madrasah. Sepertinya MAN Cendekia 'mengharamkan' rokok untuk semua warganya termasuk tidak membenarkan rokok berada wilayah sekolah yang beralamat di Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango ini.
Berkunjung ke MANIC pasti akan merasa nyaman, karena kampusnya yang asri, juga didukung dengan warganya yang murah senyum. Dan yang perlu dicatat adalah sekolah ini sangat rapi, para tenaga pengajar hingga cleaning serevice tidak ada yang berpakaian asal-asalan, semua berseragam, bahkan para guru semuanya menggunakan dasi selama jam pelajaran berlangsung. Artinya kalau berkunjung ke MANIC jangan lupa untuk merapikan diri, minimal menggunakan busana muslim. "Apakah anda sudah berpakaian Muslim," kalimat itu pula yang terpampang di gerbang masuk MANIC.
Saya langsung disambut Kepala MANIC Suwardi.Mp.d, saat berkunjung ke sana, Kamis (6/8) kemarin. Sebelum memulai wawancara dengan Kepala MANIC, saya terlebih dahulu diajak jalan-jalan keliling kampus MANIC melihat fasilitas di sekolah itu. Dan ternyata memang sangat lengkap, rata-rata kelas sudah menggunakan sistem ICT, dimana guru selain mengajar dengan menggunakan papan tulis (white board) juga ada projektor sebagai presentasi bahan ajar secara lengkap lewat laptop. Didalam kelas antara perempuan dan laki memang digabung, hanya tempat duduknya yang dipisah, kelompok perempuan berada disamping kiri dan laki dibagian kanan kelas, setiap kelas rata-rata hanya berisi 24 siswa. Selama keliling-keliling tidak ada satu pun guru maupun siswa berkeliaran karena saat itu jam pelajaran sedang berlangsung. Guru yang tidak punya jam mengajar, memilih beraktivitas dalam ruangan guru (dewan guru), mereka memilih menguatk-atik komputer yang terkoneksi dengan internet untuk menambah literatur pengajaran dari pada berdiam atau ngerumpi dalam kantin sekolah. "Disini terjadwal semuanya, sebelum jam istrahat yah gini aktivitasnya, sekolah sangat sepi," kata Suwardi saat berada di ruang guru, kemarin.
Didampingi beberapa staf pengajar, Kepala MANIC menunjukan satu per satu ruangan di sekolah ini, mulai dari laboratorium, perpusatakaan (Cyber Library) dan perpustakaan buku dengan koleksi lebih dari 5 ribu judul, kantitn kejujuran dan tak ketinggalan adalah pajangan media cetak lokal dan nasional yang berada di area kelas. "Ada koran nasional dan koran lokal, sehingga Mbah Surip meninggal pun para siswa yang semuanya diasramakan ini tahu," ujar Suwardi menunjukan pajangan media cetak tersebut.
Suwardi yang telah menjadi staf pengajar sejak MANIC didirikan ini mengatakan, sebelum sekolah ini dikelolah Departemen Agama, Insan Cendekia adalah sebuah SMU yang didirikan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di prakarsai oleh Presiden RI ke 3 Prof.Dr.Ing.BJ Habibie. "Tujuanya adalah untuk pengembangan SDM Islam, umat Islam adalah mayoritas dinegeri ini, tapi waktu itu kalau berkompetisi bidang pendidikan sering kali kalah, makanya dibuat sekolah ini, dengan mengedepankan ilmu pengetahuan, dan ahlaq para siswa juga jalan," ujarnya. Atau otak siswa berkelas Jerman dan hati serta sikap siswa adalah Makkah.
Suwardi mengatakan, keunggulan sebuah lembaga itu sebenarnya terbuka untuk dicapai, semua berkesempatan menjadi sukses, tinggal tergantung pembinaan yang harus betul-betul serius. Di MANIC sendiri diterapkan adalah filosofi ilmu pentani, "Bibit yang bagus harus ditanam di tempat yang tepat, dan dirawat dengan baik, maka Insya Allah hasilnya pasti baik," ungkap Suwardi. Aritinya, siswa yang memang unggul harus dibina dengan baik, tentu dengan tempat pendidikan yang menunjang agar kreativitasnya tidak mati. "Terkadang ada siswa yang pingin itu, tapi orang tuanya pingin ini, maka harus dicarikan solusi kalau tidak pasti akan salah," tambah Suwardi. (Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar